Gangguan Kepribadian Ambang

Gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder adalah kondisi kronis yang ditandai dengan ketidakstabilan suasana hati, citra diri, dan perilaku. Pengidap gangguan ini juga kesulitan dengan hubungan interpersonal, rentan melukai diri sendiri, dan berpotensi melakukan upaya bunuh diri. Ketidakstabilan ini sering mengganggu kehidupan keluarga dan pekerjaan, perencanaan jangka panjang, dan rasa identitas individu. Gangguan kepribadian ambang merupakan kondisi psikologis di mana individu mengalami pola perilaku dan pola pikiran yang tidak stabil atau tidak konsisten, namun tidak mencapai tingkat keparahan yang memenuhi kriteria untuk diagnosis gangguan kepribadian tertentu. Ini bisa mencakup gejala-gejala seperti ketidakstabilan emosional, impulsivitas, dan perubahan identitas yang kurang konsisten.

Meskipun tidak memenuhi kriteria penuh untuk satu jenis gangguan kepribadian tertentu, gangguan kepribadian ambang dapat memberikan tantangan signifikan dalam kehidupan sehari-hari dan memengaruhi hubungan interpersonal. Diagnosis dan penanganan gangguan kepribadian ambang memerlukan pemahaman mendalam tentang pola perilaku dan pengalaman hidup individu yang bersangkutan. Orang dengan gangguan ini awalnya dianggap berada di “perbatasan” antara psikosis dan neurosis, karena kesulitan dengan regulasi emosi. Regulasi emosi adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi dengan cara yang sehat dan adaptif.

Berikut adalah beberapa cara bagaimana gangguan kepribadian ambang dapat mempengaruhi regulasi emosi:

  1. Intensitas Emosi yang Tinggi: Individu dengan BPD cenderung mengalami emosi dengan intensitas yang sangat tinggi. Mereka mungkin sulit untuk menyeimbangkan dan merespons emosi mereka secara sehat, yang dapat mengganggu regulasi emosi.
  2. Ketidakstabilan Emosi: Seseorang dengan BPD sering mengalami ketidakstabilan emosi yang mencolok, seperti perubahan suasana hati yang drastis dan cepat. Ini membuat regulasi emosi menjadi lebih sulit karena sulit untuk memprediksi atau mengelola perubahan emosi yang tiba-tiba.
  3. Kesulitan Mengendalikan Impuls: Individu dengan BPD mungkin menghadapi kesulitan dalam mengendalikan impuls, termasuk tindakan atau kata-kata yang didorong oleh emosi saat itu. Hal ini dapat menghambat kemampuan untuk mengatur emosi dengan bijak.
  4. Ketakutan Abandonmen: Salah satu gejala BPD adalah ketakutan akan ditinggalkan. Hal ini dapat menyebabkan kecemasan yang intens dan mendorong perilaku atau reaksi emosional yang tidak sehat dalam upaya untuk menghindari perasaan ditinggalkan.
  5. Perasaan Kesepian yang Mendalam: Orang dengan BPD kadang-kadang mengalami perasaan kesepian yang mendalam, bahkan di tengah kerumunan. Kesepian ini dapat memicu emosi yang intens dan mengganggu kemampuan untuk mengelola emosi dengan seimbang.
  6. Hubungan yang Bermasalah: Hubungan interpersonal sering kali terpengaruh oleh gejala BPD, termasuk hubungan yang intens dan penuh konflik. Ketidakstabilan hubungan dapat menjadi sumber stres tambahan yang mempengaruhi regulasi emosi.
  7. Mood Swings yang Cepat: Perubahan suasana hati yang cepat dan tiba-tiba dapat menghambat kemampuan seseorang untuk mengatasi stres dan tekanan dengan cara yang sehat.
  8. Keengganan untuk Menerima Realitas: Individu dengan BPD mungkin mengalami kesulitan menerima realitas atau melihat situasi dari sudut pandang yang objektif. Hal ini dapat mempersulit regulasi emosi karena mereka mungkin tidak dapat merespons dengan tepat terhadap situasi yang dihadapi.

Pengidap gangguan kepribadian ambang sering kali membutuhkan layanan kesehatan mental yang ekstensif, dan mencakup 20 persen rawat inap psikiatri. Namun, dengan bantuan ahlinya, mayoritas orang yang mengidap kondisi ini bisa menjadi stabil dan menjalani kehidupan yang produktif. Penting untuk dicatat bahwa setiap individu dengan BPD memiliki pengalaman yang unik, dan gejala dapat bervariasi. Terapi, terutama terapi dialektikal perilaku (Dialectical Behavior Therapy/DBT), sering digunakan sebagai pendekatan yang efektif untuk membantu individu dengan BPD mengembangkan keterampilan regulasi emosi yang lebih sehat. Terapi ini dapat membantu mereka mengenali, memahami, dan mengelola emosi dengan lebih baik.

#artikel #kesehatan #mental #penaganansegera #novmi #motivasi #kalibaru #cilicing #jakartautara #jagadiri #mufakatalbannaindonesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *