Nikmat Sabar

Al Quran dalam berbagai ayatnya, banyak menerangkan tentang keutamaan sabar sebagai sebuah keindahan dalam menyikapi persoalan hidup sebagaimana perintah Allah SWT kepada Rasulullah SAW, juga kisah-kisah para nabi yang diceritakan dalam Al-Quran.

Sabar adalah menahan diri untuk tetap berada dalam ketaatan kepada Allah SWT, baik dalam keadaan lapang maupun sempit dalam keadaan derita maupun bahagia dan dalam keadaan suka maupun duka. Allah memohon untuk memohon kepadanya dengan sikap sabar dan berdoa kepada-Nya lewat salat.

“Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.” (HR Bukhari No 1469).

Sesungguhnya sabar itu tidak memiliki batasan. Ia akan terus meningkat nilainya selama kita mampu menahan ujian dan masalah yang kita hadapi.

Rasulullah menjelaskan tentang manfaat bersabar dalam sebuah hadits dari

Abu Hurairah RA:

“Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, marabahaya, dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut” (HR Bukhari dan Muslim).

Jadi, sabar itu tak memiliki batasan. Sabar itu kenikmatan. Akan dirasakan bagi setiap insan yang mampu menahan segala tantangan dan masalah kehidupannya dengan sabar.

Sabar ada kaitannya dengan manajemen kehidupan. Setiap kehidupan pasti ada aturannya. Mengikuti aturan adalah bagian dari latihan kita untuk bersabar. Menunggu antrean menunggu lampu lalu lintas menunggu mutiara adalah latihan bagi kita untuk bersabar. Jadi, kesabaran itu tampak dalam fenomena keseharian kita. Kalau kita berhasil menjalani lalu lintas kehidupan, maka kita akan selamat.

Bersabarlah dalam segala kondisi dan situasi. Karena ia adalah sebuah nikmat Tuhan yang hanya orang-orang yang mampu menjalaninya akan mendapatkan balasan yang tak pernah disangka-sangka.

Mensyukuri suatu nikmat berarti memupuk nikmat dan menimbulkan pahala yang lebih besar dari kenikmatan dunia yang telah diterima.

Demikian pula jika menemui bala berupa kesusahan, lalu bersabar, maka kesabaran dapat mengubah suasana bala menjadi kenikmatan.
Sebab, pahala yang tersedia baginya jauh lebih besar daripada penderitaannya.

By: Novmi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *